PLANT BASED DIET SEBAGAI TERAPI KOMPLEMENTER

Kesehatan dunia mengalami transisi di bidang epidemiologi,nutrisi dan demografi. Kematian karena penyakit kronis didapatkan 59% dan terus meningkat (WHO,2003; Bengmark S, 2008).

                Saat ini Indonesia tengah mengalami perubahan pola penyakit yang sering disebut transisi epidemiologi yang ditandai dengan meningkatnya kematian dan kesakitan akibat penyakit tidak menular (PTM) seperti stroke, jantung ,diabetes dll.

                “Gerakan Masyarakat hidup sehat” adalah gerakan bersama yang memiliki beberapa tujuan, mulai menurunkan beban penyakit menular dan penyakit tidak menular, baik kesakitan, kematian maupun kecacatan,menghindarkan terjadinya penurunan produktivitas, menurunkan beban pembiayaan pelayanan kesehatan. Perbaikan lingkungan dan perubahan-perubahan perilaku ke arah yang lebih sehat perlu dilakukan  secara sistematis dan terencana oleh semua komponen bangsa; untuk itu Gerakan Masyarakat (Germas) menjadi sebuah pilihan dalam mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik.

               Guna mencapai tujuan Germas secara lebih focus dan terarah untuk tahun 2017 fokus Germas adalah melakukan aktifitas fisik, konsumsi sayur dan buah serta memeriksa kesehatan secara berkala.

                Vegetarianisme semakin meningkat sebagai pilihan gaya hidup. Kecenderungan peningkatan melaksanakan  diet vegetarian karena alasan kesehatan (Benzie et al,2009).   

                Diet merupakan salah satu cara yang efektif mengurangi inflamasi sistemik dan memperbaiki disfungsi endotel (Lopez – Garcia E et al,2004). Terapi diet merupakan preskripsi atau terapi yang memanfaatkan diet yang berbeda dengan diet orang normal untuk mempercepat kesembuhan dan memperbaiki status gizi.(Andry H,2006)

                Jika obat dipandang sebagai dasar pengobatan, maka gizi harus harus dipertimbangkan sebagai dasar kesembuhan. Tentunya pertimbangan gizi dan  dan kesehatan akan kita letakkan di  tempat pertama. (Andry H,2006)

WHO/FAO merekomendasikan untuk mengkonsumsi sayur dan buah lebih dari 400 gram per orang/hari untuk mencegah penyakit kronis, yang terdiri dari  250 g sayur (setara dengan 2 ½ porsi atau 2 ½ gelas sayur setelah dimasak dan ditiriskan) dan 150 g buah (setara dengan 3 buah pisang ambon ukuran sedang atau 1 ½ potong pepaya ukuran sedang atau 3 buah jeruk ukuran sedang. Bagi orang Indonesia dianjurkan konsumsi sayuran dan buah-buahan 300-400 g per orang per hari bagi anak balita dan anak usia sekolah, dan 400-600 g per orang per hari bagi remaja dan orang dewasa. (WHO,2003 ; Menkes RI 2014)

Pada suatu proses penyembuhan dibutuhkan berbagai rangkaian reaksi kimiawi dan enzimatik. Agar proses penyembuhan tersebut berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan tergantung pula pada asupan makan termasuk asupan vitamin,mineral,air (Daldiyono,Syam A.F,2014

                Berdasarkan fungsinya, protein dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu protein lengkap (complete protein) yang berfungsi untuk pertumbuhan, penggantian jaringan yang rusak dan aus dan untuk keperluan seperti pembentukan enzim,hormon,antibodi  serta energi jika diperlukan. Contoh: telur dan susu yang mengandung seluruh asam amino esensial, (2)Protein setengah lengkap (half-complete protein) juga memiliki semua fungsi di atas kecuali fungsi pertumbuhan karena asam amino yang dikandungnya tidak cukup bagi pembentukan jaringan yang baru. Contoh: makanan sumber protein hewani lainnya I luar telur dan susu,seperti daging,ikan serta ayam; dan (3)Protein tidak lengkap(incomplete protein) yang umumnya merupakan jenis-jenis makanan sumber protein nabati seperti kacang-kacangan dan biji-bijian atau sereal. Jenis proein ini tidak digunakan untuk pertumbuhan dan penggantian jaringan rusak/aus karena jenis-jenis asam amino esensialnya tidak lengkap sehingga harus  saling dikombinasikan untuk memberikan semua asam amino esensial yang diperlukan bagi pertumbuhan dan penggantian jaringan rusak atau aus. Contoh: beras (yang kurang  mengandung asam amino lisin) dapat digabungkan dengan kedelai (yang kurang mengandung metionin).                

Mulai pertengahan abad ke-20 ahli gizi mulai memperkenalkan diet vegetarian sebagai diet alternatif untuk kesehatan. Vegetarian memandang kehidupan secara holistik, bahwa kesehatan jiwa tergantung dari badan yang sehat. Pada tahun 1880 ahli patologi klinik mengisolasi beberapa bahan yang dihasilkan dari pembusukan protein yang tidak tercerna oleh bakteri di saluran cerna. Didapatkan bahan-bahan toksik (putrescine dan cadaverine yang mirip ptomaines) yang kemungkinan cepat diabsorpsi dari kolon ke dalam aliran darah manusia dan meracuni tubuh, yang pada abad ke-19 populer dengan istilah autointoksikasi. Autointoksikasi merupakan penyebab dari 90% penyakit. Gejala autointoksikasi berupa sakit kepala,gangguan pencernaan,impoten,gugup,sulit tidur,depresi,masalah kulit,kelelahan kronis,kerusakan liver,ginjal dan pembuluh darah,cedera-cedera jaringan ikat atau sejumlah gangguan fungsi yang lain yang tidak dapat ditentukan sumbernya (Whorton,1994).

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *